Satu Pertemuan, Banyak Cerita Lama

by -25 Views

TOMOHON ,FAJARMANADO.CO.ID

– Tahun 2001 menjadi gerbang awal perjalanan bagi sekelompok anak muda memasuki dunia remaja. Dari bangku sekolah dasar, langkah kecil mereka mengantar ke sebuah bangunan sederhana bernama SMP Negeri 4 Tomohon. Sekolah yang kala itu masih baru berdiri dengan segala keterbatasan, sekaligus menjadi saksi tumbuhnya mimpi-mimpi anak-anak dari wilayah Tara-Tara Raya.

Di sana mereka belajar mengeja masa depan. Seragam putih biru menjadi saksi tawa, canda, serta cerita-cerita kecil yang tak pernah tercatat di buku pelajaran. Hari-hari dilalui dengan semangat khas remaja, dengan kenakalan polos yang justru menguatkan tali persahabatan.

Waktu kemudian berlari tanpa aba-aba. Setelah menyelesaikan pendidikan di SMP, mereka melangkah ke arah yang berbeda – ada yang memilih SMA, sebagian lainnya menimba ilmu di SMK. Usai masa pendidikan menengah atas, jalan hidup semakin bercabang; sebagian langsung terjun ke dunia kerja, yang lain melanjutkan studi ke perguruan tinggi.

Baca juga:  Putusan MK Lindungi Wartawan, SPRI : Dewan Pers dan Konstituen Wajib Hormati Putusan

Tahun-tahun berlalu, kesibukan, tanggung jawab, dan jarak perlahan merenggangkan pertemuan. Meski demikian, kenangan tak pernah benar-benar hilang – hanya diam di sudut hati, menunggu waktu untuk kembali disapa.

Awal tahun 2026 menjadi titik temu kerinduan tersebut. Lewat sebuah grup pesan sederhana, terjalin kembali niat untuk bersua dan menghidupkan ulang kisah yang pernah terukir indah di kelas-kelas SMP Negeri 4 Tomohon.

Pertemuan pun disepakati pada Minggu (25/01/2026). Tidak di gedung megah atau ruang berpendingin udara, melainkan di hamparan persawahan wilayah utara Kelurahan Tara-Tara. Alam menjadi saksi, dengan Gunung Lokon yang berdiri anggun di kejauhan seakan ikut menjaga kebersamaan yang terajut kembali.

Tawa pun pecah, menyatu dengan semilir angin dan aroma masakan yang dibakar bersama. Cerita lama kembali diulang, kenakalan masa sekolah dikenang tanpa beban, dan persahabatan terasa hangat seperti dulu. Tidak ada jarak, tidak ada sekat – yang ada hanya rasa pulang.

Baca juga:  Pemuda Sulut Maju Calon Pilkades, Bawa Gagasan Segar Bangun Desa Talikuran

Dua puluh lima tahun bukan waktu yang singkat. Namun di hari itu, semuanya seolah luruh. Kenangan yang sempat terdiam kini hidup kembali, mengalir dalam obrolan, canda, dan senyum yang tak dibuat-buat. Di antara kepulan asap dan tawa yang pecah, mereka menyadari satu hal: “Persahabatan sejati tak pernah usang dimakan zaman.”