Auditorium Prof. Soemitro Djojohadikoesoemo Menjadi Saksi Kelahiran Putri Berdarah Toraja-Minahasa Mengharumkan Kota Tomohon

by -211 Views

Sulut ,FAJARMANADO.CO.ID

– Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado kembali mengukir sejarah gemilang. Dalam Sidang Senat Terbuka Pengukuhan Guru Besar yang berlangsung di Auditorium Prof. Soemitro Djojohadikoesoemo, Kamis (7 Mei 2026), sebanyak sepuluh akademisi terpilih resmi dikukuhkan ke dalam jajaran tertinggi dunia akademik. Di antara mereka, nama Prof. Dr. Dra. Henny Lieke Rampe, M.Si. bersinar istimewa—bukan hanya karena keunggulan ilmunya, melainkan karena akar kuatnya dari bumi Tomohon dan jejak pengabdiannya yang luas di tengah masyarakat.

Ia lahir dan dibesarkan di Kelurahan Kolongan, Kecamatan Tomohon Tengah, dari keluarga terhormat Rampe Golioth yang mengalirkan darah gabungan suku Toraja dan Minahasa. Sebagai anak ketiga dari enam bersaudara yang seluruhnya perempuan, Henny tumbuh dalam asuhan seorang ayah yang setia mengabdi sebagai prajurit TNI Angkatan Darat, serta seorang ibu yang mendedikasikan hidupnya sebagai pendidik. Semangat mulia itu menular ke seluruh keluarganya: dua di antaranya kini berbakti sebagai dosen, sementara empat lainnya mengabdikan diri sebagai guru, menebar ilmu ke segenap penjuru.

Lebih dari sekadar akademisi yang tekun meneliti dan mengajar, sosok yang kini diangkat menjadi Guru Besar ini juga dikenal sangat aktif dan berdedikasi tinggi di lingkungan organisasi Gerakan Putra-Putri Keluarga Prajurit TNI-Polri (GM FKPPI). Melalui organisasi ini, ia terus menjunjung tinggi semangat pengabdian, persaudaraan, serta tanggung jawab sosial yang sejak kecil sudah tertanam kuat dalam dirinya sebagai putri seorang prajurit. Pengalaman dan perannya di organisasi ini turut membentuk jiwa kepemimpinannya, yang kini tercermin dalam setiap langkahnya membawa ilmu ke tengah masyarakat.

Baca juga:   "Stop Pembangunan Perum Tesalonika! Dugaan Pelanggaran UU Perumahan oleh Prapti & PT Reksindo, Warga Minta Pemerintah Provinsi Turun Tangan!"

Pengukuhan ini layak disebut sebagai “lahirnya kembali” sosok yang membawa harum nama kampung halamannya—bukti nyata dari perjuangan panjang, malam-malam yang dihabiskan mendalami ilmu, keringat yang menetes, serta doa yang tak pernah putus dari keluarga dan orang-orang yang mendukungnya. Kehadirannya di jajaran Guru Besar baru sekaligus menjadi kebanggaan seluruh warga Tomohon dan Sulawesi Utara.

Rektor Universitas Sam Ratulangi, Prof. Dr. Ir. Berty Sompie, M.Eng, IPU, ASEAN Eng, dalam sambutannya menegaskan bahwa gelar yang kini disandang para guru besar baru bukanlah hadiah yang datang dengan mudah. “Di balik toga yang dikenakan, tersimpan narasi tentang malam-malam panjang penelitian, kelelahan yang dipendam, hingga doa yang tak putus-putus,” ujarnya tegas.

Ia pun menambahkan makna mendalam dari jabatan yang diemban: “Gelar Guru Besar bukan sekadar pengakuan, melainkan amanah besar. Seorang profesor harus menjadi panutan, sumber ilmu, dan penjaga integritas bagi sivitas akademika maupun masyarakat luas.” Rektor juga menekankan bahwa terwujudnya visi “Unsrat Unggul, Berbudaya, dan Berstandar Internasional” sangat bergantung pada peran para guru besar yang berdiri di garis terdepan, menuntun generasi muda melahirkan gagasan yang menjadi solusi nyata bagi bangsa.

Baca juga:  Hasil Job Fit 26 JPT-P Kota Tomohon Dikirim ke BKN

“Gelar Profesor adalah pengakuan atas kepakaran, namun pengabdiannyalah yang akan menjadi warisan yang sesungguhnya. Jadikan Unsrat bukan hanya rumah ilmu, tapi rumah pendidikan yang menebar terang bagi dunia,” tambah Prof. Berty.

Senada dengan itu, Gubernur Sulawesi Utara yang diwakili Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda), Jani Lukas, S.Pi., M.Si., menyampaikan harapan besar agar para guru besar ini menjadi penggerak perubahan di daerah. “Kita optimis kontribusi riset dan inovasi berbasis kearifan lokal dari para guru besar ini dapat mempercepat pembangunan menuju Sulawesi Utara yang maju, sejahtera, dan berkelanjutan,” tegasnya.

Sepuluh guru besar yang dikukuhkan berasal dari beragam bidang keilmuan, mulai dari teknik, ilmu alam, ekonomi, pertanian, hingga hukum, yang semakin memperkaya khazanah keilmuan di kampus yang menjunjung semboyan Si Tou Timou Tumou Tou — manusia hidup untuk menghidupkan orang lain.

Baca juga:  "TINGKATKAN BIROKRASI  – BUPATI MINUT DAN MINAHASA , AJAK SESAMA PEMIMPIN FASILITASI PURNA PRAJA"

Berikut daftar lengkap kesepuluh Guru Besar baru Universitas Sam Ratulangi:
• Prof. Ir. Steenie Edward Wallah, MSc, PhD, IPU.
• Prof. Dr. Ir. Tiny Mananoma, MT, IPM, ASEAN Eng.
• Prof. Dr. Dolfie Paulus Pandara, S.Pd., M.Si.
• Prof. Dr. Dra. Henny Lieke Rampe, M.Si.
• Prof. Joy Elly Tulung, S.E., MSc., Ph.D.
• Prof. Ir. Dedie Tooy, M.Si., Ph.D.
• Prof. Dr. Ir. Dantje Tarore, M.S.
• Prof. Dr. Ir. Betsy Agustina Naomi Pinaria, M.S.
• Prof. Dr. Ir. Leonardus Ricky Rengkung, M.E.
• Prof. Dr. Cornelis Djelfie Massie, S.H., M.H.

Bagi Prof. Henny Lieke Rampe, perjalanan ini adalah bukti nyata: dari keluarga sederhana di Kelurahan Kolongan, dari perpaduan darah Toraja dan Minahasa, serta dibesarkan dalam semangat pengabdian militer dan dunia pendidikan, lahir sosok yang tak hanya menorehkan prestasi di ranah akademik, tetapi juga setia melayani masyarakat. Ia adalah bukti hidup bahwa ilmu dan pengabdian adalah cahaya yang tak pernah padam.